Steve Vai selalu melakukan Zen Meditation sebelum melakukan rekaman gitarnya, ini adalah latihan Zen yang sangat menarik untuk anda simak, check It Out : http://www.do-not-zzz.com/index2.html
The Genius of Jimi Hendrix was being brought again to life on stage by John Mayer.
No matter how young and cutting edge John Mayer is, he barely touched the edge of Hendrix creative perimeter yet.
Landscape yang diciptakan oleh Jimi sangat luas ibarat lautan tak bertepi, dibutuhkan lebih dari 30 tahun bagi budaya dunia untuk mulai mencapai sedikit tepi dari Psychedelic Landscape itu.
John Mayer membuktikan ke-genius-an Hendrix itu, di-sela sela cover version dari “Axis - Bold As Love”, Mayer berkata bahwa sejak umur 20 tahun sampai saat ini 30 tahun, dia telah membuat dirinya sendiri sukses ( mungkin dia telah tanpa sengaja melupakan kontribusi dari Marketing Team Label dibelakang-nya ). Banyak sekali hal yang sudah dia alami, he’s seen it all.
Only one thing i want to check out before i check out, you know…no matter how corny it sounds but i gotta tell you, it’s “Love”. It’s about feeling love giving love in his life.
Mayer berkata segalanya telah ia rasakan, tapi hanya satu yang ingin dia rasakan sebelum mati, yaitu hidup memberi dan menerima Cinta, bukan cinta a’la Hollywood tapi cinta yang menerima diri mu apa adanya.
John Mayer belum pernah merasakan dicintai dan mencintai ? aah yang bener ? si pretty boy blonde belum pernah dicintai ? Non sense.
Hendrix yang sepantasnya berkata begitu, hidup sebagai kaum kulit hitam yang senantiasa di per-kuda oleh kaum kulit putih, di manage oleh Chas Chandler sebagai sapi perahan, di-cekoki ceweq ceweq bule dan narkotika agar Hendrix terus berkarya agar mereka, kaum kulit putih itu bisa meraup banyak untung terus terus-an.
Tidak peduli apa yang dirasakan oleh Hendrix yang sangat sangat extra sensitive itu, sudah sepantasnya karena dia adalah seorang Artist seniman yang saat ini terbukti sejajar dengan para komposer klasik dunia, sudah seharusnya jadi manusia yang “Sensi”.
Belum ada yang pantas jadi Gitaris concerto Philharmonic yang membawakan seluruh komposisi dari Hendrix, setelah SRV pun meninggal, belum ada yang pantas, belum..no Sir.
Setelah SRV, belum ada lagi sampai sekarang, John Mayer punya semua not not itu, tapi tidak punya “Sakit” yang ada dalam jiwa-nya SRV.
SRV praktis hidup dan bertumbuh di Bar Bar gelap dijalanan Austin, Texas sejak remaja sementara John Mayer hidup di Kampus.
Sebagai generasi pertama yang kena eksperimen obat bius, Hendrix tidak mampu keluar dari “Pelarian” gundah hati-nya, hidup di-alam bawah sadar, Psychedelic Landscape.
Sampai Mati……..Music Industry killed Hendrix, Label people, Management people and Racialism. John Mayer mah gak tau apa apa perkara “Cinta”, Peace and Love adalah slogan Hendrix dan jutaan anak anak Flower Power 60’s. Anak anak korban Industrialisasi dan Marginalisasi, korban Mordenisasi Orang Tua yang bercerai.
John Mayer mah anak Bule baik baik yang di-sekolahkan di Berklee serta diberi uang saku oleh orang tuanya yang manusia baik baik itu, bukan seperti orang tua-nya Sid Vicious yang Hippies itu.
Tapi John Mayer memang peniru yang baik, meng-emulasi dengan baik, sebaik masa kanak kanak-nya yang Middle Class dan aman sentosa itu. Sebatas meng-emulasi saja, belum hidup didalam-nya walau dia bernyanyi : Every day…every day i got The Blues.
John Mayer tidak tau apa yang dia katakan sendiri, Blues adalah lahir miskin dan kulit hitam di jalanan kota Chicago. Bukan-nya Bule Middle Class dan sekolah di Berklee sambil dapat uang saku, itu mah bukan Blues tapi Bluesy.
Ok Guys give me one more solo ! Itu yang dikatakan John Mayer setelah pidato-nya tentang Cinta itu disela sela cover version lagu Hendrix “Axis - Bold As Love”.
Kalo Jimi masih hidup dia pasti berkata : You don’t have any idea what you’ve talked about, White Boy. Tapi jika melihat SRV, maka Jimi akan berkata : You’ve got it down, Dude, sambil mengacungkan dua jempol diatas sono, di dalam dimensi lain, surga atau neraka tidak penting.




